BERITA KOTA ONLINE, MAKASSAR –Kegiatan Ngopi Pintar bertajuk “Mencari Pemimpin Baru Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar” menjadi ruang diskusi terbuka bagi berbagai elemen masyarakat dalam merumuskan kriteria kepemimpinan zakat lima tahun ke depan.
Kegiatan yang digelar di Warkop Kualiti Coffee, Jalan Todoppuli, Sabtu (11/4/2026) ini turut dihadiri sejumlah pengurus Ormas Elang Timur Indonesia, di antaranya Sekretaris Umum Ahmad Rusli, Wakil Sekretaris Faisal Kahar, serta Wakil Bendahara Sabda dan Ernawati.
Sekretaris Umum Elang Timur Indonesia, Ahmad Rusli, mengatakan kehadiran organisasinya dalam forum tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan pengelolaan zakat di Kota Makassar.
Menurutnya, selama ini Elang Timur Indonesia kerap berkolaborasi dengan BAZNAS dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Kami hadir karena selama ini sering berkolaborasi dengan BAZNAS Makassar. Kami berharap ke depan lembaga ini dipimpin oleh sosok yang berintegritas dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan Ngopi Pintar dibuka oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Makassar, H. Yunus DJ.
Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa proses pemilihan pimpinan BAZNAS tidak boleh hanya dipandang sebagai agenda rutin lima tahunan, tetapi harus menjadi momentum menghadirkan kepemimpinan yang visioner.
Sejumlah narasumber turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Makassar, H. Muh. Syarief, Ketua BAZNAS Kota Makassar HM Ashar Tamanggong, serta Ketua Rumah Zakat Sulawesi Selatan Amir ST MM.
Dalam pemaparannya, Muh. Syarief mengungkapkan bahwa potensi zakat di Kota Makassar mencapai Rp1,3 triliun. Ia menilai, besarnya potensi tersebut harus diimbangi dengan kemampuan manajerial dan inovasi dari pimpinan BAZNAS ke depan.
“Potensi zakat kita sangat besar. Karena itu, pemimpin baru harus mampu mengelola dan memanfaatkannya secara maksimal demi kesejahteraan umat,” katanya.
Sementara itu, Ashar Tamanggong menegaskan pentingnya integritas dan kesiapan pribadi seorang pemimpin.
Ia mengingatkan agar pimpinan yang terpilih tidak menjadikan posisi tersebut sebagai sarana mencari penghidupan.
“Pimpinan BAZNAS harus selesai dengan dirinya. Artinya, tidak lagi berpikir untuk mencari hidup di lembaga ini,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa nilai budaya lokal seperti “Siri’ na Pacce” harus menjadi landasan dalam pengelolaan zakat, sekaligus mendorong transformasi mustahik menjadi muzakki melalui program-program produktif.
Adapun Amir menekankan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam pengelolaan zakat.
Menurutnya, keberhasilan BAZNAS tidak semata diukur dari jumlah dana yang terkumpul, tetapi dari dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Keberhasilan BAZNAS bukan sekadar angka, tetapi seberapa banyak senyuman mustahik yang bisa dikembalikan,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut juga mengemuka bahwa pemimpin BAZNAS ke depan harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi, mampu turun langsung ke masyarakat, serta memiliki kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.
Ormas Elang Timur Indonesia menilai, kepemimpinan BAZNAS Makassar ke depan harus mampu memadukan profesionalisme dan empati, sehingga pengelolaan zakat tidak hanya akuntabel, tetapi juga berdampak luas dalam pengentasan kemiskinan.
Forum Ngopi Pintar ini diharapkan dapat menjadi bagian dari proses melahirkan pemimpin BAZNAS Kota Makassar yang tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga tangguh dalam implementasi di lapangan. (Tim)
































































































































































































































