MAKASSAR — Sebuah babak baru dimulai di SMK Negeri 2 Makassar. Jumat, 1 Agustus 2025 menjadi momentum penting ketika tongkat kepemimpinan sekolah vokasi tertua di Sulawesi Selatan itu berpindah tangan dari Muh. Kasim Sainong, S.Pd., M.M. kepada Mansyur, S.Pd. selaku Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Sekolah.
Namun pergantian ini bukan seremoni biasa. Suasana haru, apresiatif, sekaligus penuh harapan menyelimuti aula sekolah di Jl. Pancasila No. 15 tersebut.
Muh. Kasim, yang dikenal sebagai sosok tegas dan peduli, mengakhiri masa jabatannya dengan warisan pembangunan fisik yang nyata mulai dari taman baca hingga panggung seni.
“Yang saya bangun ini baru permulaan. Tantangan terbesar justru pada pembentukan lulusan yang berkualitas dan siap pakai. Saya percaya pimpinan baru akan melangkah lebih jauh,” ujar Kasim dalam sambutan terakhirnya.
Di sisi lain, Mansyur tidak menunggu waktu lama untuk memberi sinyal bahwa ia siap melaju kencang. Dengan gaya lugas, ia menegaskan bahwa status PLT bukan alasan untuk melambat.
“Saya orang lapangan, bukan tipe duduk di balik meja. SMKN 2 ini harus menjadi barometer vokasi di Indonesia Timur. Dan itu harus dimulai hari ini, bukan besok,” tegas Mansyur disambut tepuk tangan.
Mansyur menilai salah satu persoalan utama dunia SMK adalah lemahnya jembatan antara lulusan dan dunia industri. Ia berkomitmen memperkuat kemitraan, memperbarui kurikulum, dan menjadikan praktik nyata sebagai inti pembelajaran.
“Anak-anak SMK jangan hanya jago teori. Kita harus ciptakan lulusan yang langsung diterima pasar kerja, bahkan bisa ciptakan lapangan kerja,” tambahnya.
BACA JUGA:
473 Siswa SMKN 2 Makassar Resmi Lulus Tanpa Konvoi, Tujuh Perusahaan Siap Rekrut Lulusan
Final AFF U23: Indonesia Gagal Juara, Keok Tipis 0-1 dari Vietnam di Kandang Sendiri
Selain itu, sorotan juga datang dari kalangan alumni. Jupri, alumni tahun 1990, menegaskan bahwa SMKN 2 Makassar harus tetap menjadi benteng sosial bagi anak-anak dari keluarga sederhana.
“Jangan sampai sekolah ini kehilangan rohnya. SMK itu bukan menara gading, tapi rumah bagi anak-anak pinggiran yang ingin punya masa depan,” ujarnya dengan nada kritis.
Sementara itu, Muslimin Yunus, alumni tahun 2000 yang kini aktif dalam pengembangan SDM, mengingatkan agar sekolah tidak hanya fokus pada infrastruktur.
“Guru-guru harus upgrade. Kalau pengajar tertinggal dari perkembangan industri, maka lulusan akan jadi korban. Sekolah perlu revolusi senyap dari dalam,” katanya.
Untuk sekedar diketahui, sekolah SMKa. 2 Makassar Didirikan pada 1958. Sekolah yang terletak di Kota Daeng ini merupakan salah satu SMK unggulan di Sulawesi Selatan.
Telah terakreditasi A dan menjalin kerja sama dengan berbagai industri nasional, sekolah ini menjadi salah satu jalur utama vokasi yang berorientasi kerja di kawasan Indonesia Timur.
Kini, dengan transisi kepemimpinan ini, banyak harapan digantungkan. Sebab lebih dari sekadar ruang kelas, SMKN 2 adalah tempat ribuan siswa menaruh mimpi dan masa depan. Dan bagi Mansyur, tantangan ini bukan untuk ditunda melainkan untuk digaspol (*)
Editor: Muh. Djapring
































































































































































































































