Derbi Mataram PSIM Yogyakarta vs Persis Solo Berakhir Kacamata

Derbi Mataram PSIM Yogyakarta vs Persis Solo Berakhir Kacamata
Pelatih Persis Solo menyampaikan keterangan kepada awak media usai laga Derbi Mataram kontra PSIM Yogyakarta dalam lanjutan Super League 2025/2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jumat (06/02/2026) (Foto: Istimewa).

BERITA KOTA ONLINE, JAKARTA – Derbi Mataram antara PSIM Yogyakarta dan Persis Solo dalam lanjutan Super League 2025/2026 berakhir tanpa pemenang.

Pertandingan yang digelar di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jumat (06/02/2026), tersebut berakhir dengan skor kacamata 0-0 setelah kedua tim gagal memaksimalkan peluang sepanjang 90 menit laga.

Bertindak sebagai tuan rumah, PSIM Yogyakarta langsung mengambil inisiatif permainan sejak awal babak pertama.

Laskar Mataram tampil agresif dengan penguasaan bola yang lebih dominan dan mencoba membongkar pertahanan Persis Solo melalui skema umpan-umpan cepat dari lini tengah.

Persis Solo memilih bermain lebih disiplin dengan menumpuk pemain di sektor belakang dan mengandalkan transisi serangan balik.

Peluang berbahaya pertama PSIM hadir di pertengahan babak pertama. Nermin Haljeta hampir membuka keunggulan lewat tendangan overhead kick di dalam kotak penalti setelah memanfaatkan kemelut di depan gawang.

Namun, upaya tersebut masih berhasil digagalkan oleh bek Persis, Kadek Raditya, yang melakukan blok krusial.
PSIM kembali memperoleh peluang emas jelang turun minum.

Fahreza Sudin lolos dari kawalan dan berhadapan langsung satu lawan satu dengan kiper Persis Solo, Vukasin Vranes.

Sayangnya, eksekusi Fahreza belum membuahkan hasil setelah Vranes tampil sigap menutup ruang tembak. Hingga babak pertama usai, skor tetap imbang tanpa gol.

BACA JUGA:

Sprint Race MotoGP Australia 2025: Bagnaia Vs Bezzecchi Berebut Peringkat Ketiga

Atap Seng Dinilai Tak Sehat, AHY Dukung Gentengisasi untuk Permukiman Layak

Memasuki babak kedua, PSIM semakin meningkatkan tekanan. Dominasi penguasaan bola tetap dipertahankan dengan intensitas serangan yang lebih tinggi.

Beberapa kali PSIM mencoba memanfaatkan sisi sayap untuk mengirimkan umpan silang ke kotak penalti, namun rapatnya pertahanan Persis membuat setiap peluang dapat dipatahkan.

Peluang paling berbahaya di babak kedua tercipta melalui Ezequiel Vidal. Gelandang serang PSIM tersebut menyambut umpan silang dengan sundulan keras yang mengarah ke gawang.

Bola sempat membuat publik tuan rumah menahan napas, namun hanya membentur tiang gawang dan gagal berbuah gol.

Di sisi lain, Persis Solo tetap konsisten dengan pendekatan bertahan. Meski jarang menguasai bola, tim tamu sesekali mencoba keluar dari tekanan lewat serangan balik cepat.

Namun, penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat Persis tidak mampu menciptakan ancaman berarti ke gawang PSIM.

Kontroversi sempat mewarnai pertandingan pada menit ke-81. Para pemain PSIM melayangkan protes keras kepada wasit terkait dugaan handball yang dilakukan Kadek Raditya di dalam kotak penalti Persis.

PSIM meminta wasit untuk meninjau VAR, namun setelah berkomunikasi dengan asisten wasit, pengadil lapangan memutuskan tidak melakukan pengecekan ulang dan pertandingan dilanjutkan.

Hingga peluit panjang dibunyikan, tekanan bertubi-tubi yang dilancarkan PSIM tak kunjung membuahkan hasil. Skor 0-0 bertahan hingga akhir laga, membuat kedua tim harus puas berbagi satu poin.

Hasil ini menegaskan solidnya lini pertahanan Persis Solo, sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi PSIM Yogyakarta yang masih kesulitan mengonversi dominasi permainan menjadi gol. (*)

Pewarta: Andi Eka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *