Makassar, Beritakota Online-Masih dalam rangkaian Peringatan Hari Bumi 22 April 2022 Komunitas Manggala Tanpa Sekat didapuk memeberikan Pengolahan Sampah Organik bertempat di SD Inpres Batua 1 Kota Makassar. Pelatihan ini di fasilitasi oleh Klik Hijau.com dan Mitra Hijau Asia, diikuti oleh para guru dan perwakilan orang tua siswa SD Impres Batua 1 Makassar juga para pegiat dari Komunitas Manggala Tanpa Sekat (MTS), antara lain Mashud Azikin Haba Dg Bali, Kanisius Kanis, Aisya, Hamidah Hanafi.

Editor in Chief Klikhijau.com, Anis Kurniawan dalam sambutannya mengatakan pengelolaan sampah rumah tangga sangat penting diperhatikan. Hal itu karena setiap orang adalah produsen sampah, namun sebagian besar diantaranya hanya terbuang bebas di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Setiap orang Indonesia umumnya menghasilkan sampah antara 0,8 kg – 1,2 kg perharinya. Bila dilihat dari komposisinya, 70 persen diantaranya adalah sampah organik, selebihnya adalah sampah anorganik yang sebetulnya bisa didaur ulang atau dimasukkan di bank sampah,” terang Anis.
Karena itulah, tambahnya, diperlukan komitmen kuat untuk memperbaiki tata kelola sampah rumah tangga.
“Kita perlu fokus pula pada sampah organik yang jumlahnya besar antara lain dari sampah makanan, sisa pangan dan lainnya. Bahan baku organik ini sudah saatnya diolah menjadi pupuk organik atau bahan-bahan bermanfaat lainnya,” tambahnya.
Sementara itu, inisiator Manggala Tanpa Sekat, Mashud Azikin mengatakan potensi sampah organik di Kota Makassar sejauh ini belum terkelola baik.
“Sampah organik kita yang komposisinya sangat besar itu hanya terbuang ke TPA Antang. Akhirnya Manggala menanggung beban akibat tingginya volume sampah. Padahal bila sampah organik ini dikelola, tentu akan memiliki nilai tersendiri,” jelasnya.
Mashud mengatakan sudah saatnya warga kota Makassar memahami metode pengolahan sampah organik. Semua bahan organik, tambahnya, bisa diolah dengan beragam produk, baik itu pupuk kompos, eco enzyme, bahan pengurai hingga produk kesehatan.
Dalam pelatihan ini, Mashud Azikin juga menunjukkan jenis-jenis sampah rumah tangga yang bisa diolah seperti sampah kulit buah, sisa sayuran berwarna dan lainnya.
Hanya dalam durasi beberapa menit saja semua proses pengolahan tuntas diperagakan. Bahan-bahan yang sudah diolah melalui mesin blender akhirnya menyatu dan dimasukkan dalam sebuah wadah. Lalu, dibungkus dengan plastik yang beberapa bagiannya dilubangi.
Hasil olahan ini kemudian disimpan selama beberapa hari sebelum akhirnya terurai sebagai pupuk organik multi fungsi.
“Semua bahan alami ini tersedia melimpah di sekitar kita. Sejatinya, bila pengolahan sampah organik berjalan baik, kita sangat leluasa mendukung kebijakan pemerintah Kota Makassar misalnya untuk menggerakkan aksi “lorong wisata”,” ucapnya.
Hanya dengan menggunakan peralatan sederhana bahan-bahan alami tersebut dapat diolah menjadi pupuk yang kemudian dapat melahirkan produk-produk pertanian alami.
“Petani kita sudah seharusnya menggunakan bahan alami sebagai pupuk sehingga ada efisiensi biaya pertanian. Pemerintah perlu mendukung aksi semacam ini, kami siap menjadi bagian penting memberikan pelatihan dan pemahaman ke masyarakat mengenai metode pengolahan sampah organik,” pungkasnya.
Pelatihan pengolahan sampah organik yang dimulai pada pukul 16.30 berakhir beberapa saat jelang buka puasa. Para peserta yang terdiri dari sekira 40 orang kemudian mengikuti buka puasa bersama dan shalat berjamaah.
Pelatihan dan sesi buka puasa bersama ini merupakan bagian dari aksi Mitra Hijau Asia berbagi di pagelaran “Green Ramadhan for EARTH”. Selain berbagi pengetahuan, semua peserta juga berfoto bersama dengan spanduk berlatar Hari Bumi.
“Semoga tahun depan, kegiatan menarik semacam ini bisa dilakukan kembali,” pungkas seorang guru kelas di SD Impres Batua 1 Makassar.
Laporan : Kanisius Kanis
Editor : Andi Eka/Andi A Effendy